Ekofeminisme dan Pembangunan

Oleh: AMINUDDIN, S.Pd., M.M., Ph.D. Universitas Pejuang Republik Indonesia Makassar

Short course Certified of Enviromental Management Leadership (C.EML) batch 5 yang dilaksanakan oleh Assosiasi Peneliti Studi Kalimantan, dimulai pada hari Sabtu tanggal 1 November 2025 memberi pengalaman berarti buat saya yang baru pertama kali mengenali apa itu ekofeminisme. Pemateri pertama Ibu Irene Natalia Lambung dari Universitas Palangkaraya yang juga Ketua Badan Eksekutif Komunitas Solidaritas Perempuan Mamut Menteng (SPMM), menyampaikan materi yang diberi judul Ekofeminisme dan Kepemimpinan Lingkungan Berkelanjutan.

Dalam paparannya yang dimulai dengan mejelaskan ekofeminisme serta berbagai Komunitas yang peduli dengan lingkungan, termasuk diantarannya di Kota Makassar yaitu Solidaritas Perempuan Angin Mamiri Makassar. Selanjutnya membincangkan tentang krisis pangan yang dihadapi komunitas lokal saat ini, yang juga menjadi permasalahan dengan krisis keadilan gender. Dari paparan yang disampaikan saya memahami betapa saat ini telah terjadi penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi sumber daya alam sering kali berasal dari sistem patriarki yang sama. Untuk mencapai keadilan sosial dan lingkungan, kedua isu ini harus ditangani secara bersamaan. Sebagaimana diketahui bahwa, dampak dari eksploitasi sumber daya alam tersebut menyebabkan kerusakan lingkungan, kehilangan keanekaragaman hayati, pencemaran air dan udara, perubahan iklim serta kerugian ekonomi jangka panjang. Sementara sitem patriarki pun menjadi tantangan bagi kaum perempuan karena rentan terhadap kekerasan fisik, emosional, bahkan kekerasan seksual sehingga mengakibatkan kesetaraan perempuan tidak dimiliki dalam berbagai aspek kehidupan.

Dalam kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengenali apa yang menjadi permasalahan di Kota Makassar, sepanjang pengetahuan dan riset yang dilakukan oleh komunitas. Setidaknya ada dua contoh yang disampaikan yaitu pertama reklamasi Pantai Losari dan kedua pembangunan kawasanan Makassar New Port (MNP). Menurut sejarah bahwa Pantai Losari pernah menjadi lokasi berdasandarnya kapal-kapal dari daerah disekitar abad ke-20. Hal ini menjadi pemandangan menarik, karena pantainya pun berpasir putih. Seperti lasimnya sebuah bibir pantai ditumbuhi pohon bakau, nipah dan beberapa jenis tanaman lainnya. Namun beberapa tahun kemudian, keindahan Pantai Losari menjadikan ikon utama bagi Kota Makassar karena memiliki cerita yang panjang. Pantai Losari menjadi objek wisata domestik maupun mancanegara, meski telah mengalami beberapa kali perubahan. Pantai Losari ini sebuah pantai yang terletak di sebelah barat Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Pantai ini menjadi tempat bagi warga Makassar untuk menghabiskan waktu pada pagi, sore, dan malam hari menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah.

Sejak era tahun 2010-an yang lalu, didepan anjungan Pantai Losari telah dilakukan reklamasi pantai sehingga yang dulu air laut yang mengarah kebibir Pantai Losari tidak lagi sederas dulu, karena terhalang dengan hasil reklamasi dan Pulau Lae-Lae yang ada di depan anjungan. Disisi lain yang disampaikan adalah pembangunan Makassar New Port (MNP) yang terletak di bahagian utara kota Makasar. MNP adalah Proyek Strategis Nasional yang telah dimulai sejak tahun 2015. PSN ini sendiri bertujuan untuk meningkatkan logistik di Kawasan Timur Indonesia dengan kapasitas yang jauh lebih besar dari pelabuhan lama, dengan dilengkapi jalan tol yang terintegrasi. Selain peningkatan kapasitas logistik, NMP juga melakukan efisiensi logistik dimana waktu sandar kapal meningkat menjadi maksimal dari sebelumnya 48 jam menjadi 24 jam. Karena hal ini, MNP dirancang untuk menjadi hub logistik kawasan timur Indonesia yang dapat mendukung kegiatan eksport dan memperkuat konektifitas.

Jika melihat aspek yang disampaikan pada dasarnya reklamasi Pantai Losari adalah sebuah langkah pemerintah dalam menambah wilayah daratan kota Makassar yang hanya berkisar 175,77 km persegi. Sementara MNP mejadi hub logistic di kawasan Timur Indonesia. Mungkin yang menjadi pertanyaan kemudian apakah pengembangan tersebut dilakukan setelah mengadvokasi keadilan sosial masyarakat yang memang tidak terpisahkan dari keadilan lingkungan. Ini karena kepemimpinan berkelanjutan, mengadopsi prinsip yang berusaha untuk menciptakan kebijakan yang adil bagi semua pihak, termasuk generasi mendatang. Sekedar mengingatkan bahwa kepemimpinan berkelanjutan mendorong inklusi suara perempuan dalam proses pengambilan keputusan. Pemberdayaan perempuan dalam kepemimpinan dapat membawa perspektif baru yang lebih mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial. Perempuan sering kali menjadi penjaga tradisi dan sumber daya di komunitas. Dalam konteks kepemimpinan berkelanjutan, mereka memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya alam dan dalam mempromosikan praktik yang ramah lingkungan. Ekofeminisme yang dipaparkan di sesi I adalah bahagian untuk mendorong perubahan paradigma yang melihat keterhubungan antara manusia dan alam. Kepemimpinan berkelanjutan yang diinspirasi oleh perspektif yang berfokus pada solusi holistik yang mempertimbangkan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan secara bersamaan. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini, kita dapat bergerak menuju masyarakat yang lebih adil dan berkelanjutan.

Leave a Comment