Sebelum Penjaga Hutan dan Penjaga Laut Dilupakan Sejarah

Asep Rahman, SKM., M.Kes (Dosen Universitas Sam Ratulangi)

Beberapa malam belakangan, di sela-sela waktu senggang yang makin langka, saya sempat ikut larut dalam euforia menonton pertandingan Piala Dunia di televisi. Namun, selain keseruan drama di lapangan hijau itu, serial Avatar di Netflix akhirnya juga jadi pilihan tontonan saya untuk melepas penat. Menonton laga Piala Dunia membuat saya merenung bagaimana sebuah tim besar bisa hancur berantakan hanya karena kehilangan strategi taktis yang rapi. Sementara itu, serial Avatar menyuguhkan premis fiksi yang tak kalah ngeri tentang runtuhnya sebuah peradaban akibat hilangnya para pengendali elemen alam, karena Negara Api menyerang. Menariknya, tim sepak bola yang kalah hari ini masih bisa membangun taktik baru karena semua rekaman pertandingan mereka tersimpan rapi. Namun, bayangkan jika sebuah suku di dunia nyata kehilangan seluruh taktik bertahan hidup, kekayaan pengetahuan, dan identitasnya secara total hanya karena tidak pernah dicatat. Itulah “kekalahan” sesungguhnya yang kini sedang mengintai kita—sebuah amnesia sejarah akibat minimnya dokumentasi.

Namun, saat layar televisi dimatikan, saya tersadar akan sebuah kenyataan yang jauh lebih mengerikan di dunia nyata. Di negeri kita, “Negara Api” yang mengancam itu bukanlah pasukan militer berbaju merah, melainkan musuh yang bergerak sunyi: amnesia sejarah akibat minimnya dokumentasi. Kita sedang berada di ambang kehilangan identitas, kekayaan pengetahuan lokal, dan kedaulatan hayati kita sendiri, justru sebelum kita sempat mencatatnya dengan lengkap.

Bicara soal menjaga keseimbangan alam, ingatan kita secara otomatis akan tertuju pada dua benteng pertahanan terbesar kepulauan ini: rimbunnya hutan pedalaman dan luasnya hamparan samudra. Di sanalah menetap para maestro kehidupan, Suku Dayak sang Penjaga Hutan, dan Suku Bajo sang Penjaga Laut. Sayangnya, sejarah dan kontribusi besar mereka terancam dilupakan, terutama dalam satu aspek krusial yang menjadi bukti paling sahih atas keharmonisan mereka dengan alam berupa sistem pengobatan dan kesehatan tradisional.

Isyarat dari Sungai Utik dan Pesisir Bajo

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengikuti Short Course yang diselenggarakan oleh Asosiasi Peneliti Studi Kawasan Kalimantan. Melalui ruang virtual Zoom, saya berhadapan langsung dengan Raymundus Remang, sosok tetua adat Dayak Iban dari Sungai Utik yang merupakan penerima penghargaan Kalpataru serta Equator Award dari PBB. Kaliber beliau dalam menjaga hutan adat sudah diakui dunia. Namun, ketika saya bertanya mengenai bagaimana mereka mewariskan resep-resep obat dari tanaman hutan, gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.

Beliau membenarkan sebuah fakta pahit hingga hari ini, pendokumentasian tertulis mengenai pemanfaatan obat tradisional di kalangan masyarakat Dayak masih sangat jauh dari kata maksimal. Pengetahuan itu hidup, dipraktikkan, dan menyembuhkan, tetapi ia hanya menggantung pada utas tali yang rapuh bernama tradisi lisan (oral tradition).

Kondisi yang sama persis saya temukan ketika turun langsung ke lapangan sebagai aktivis dan peneliti yang berinteraksi dengan Suku Bajo. Sebagai masyarakat bahari yang tangguh, Suku Bajo memiliki pengetahuan luar biasa tentang tanaman pesisir, mangrove, dan biota laut yang digunakan untuk menjaga kesehatan ibu hamil, memulihkan stamina nelayan, hingga mengobati penyakit kronis. Namun, coba Anda cari buku, jurnal, atau catatan kaki yang ditulis sendiri oleh mereka tentang ramuan-ramuan tersebut. Hasilnya hampir nihil. Mereka mempraktikkannya turun-temurun, tetapi minim sekali menuliskannya.

Kesehatan Tradisional Bisa Jadi Bentuk Tertinggi Merawat Alam

Bagi sebuah komunitas pecinta lingkungan, kita harus melihat kesehatan tradisional bukan sekadar sebagai alternatif pengobatan murah, melainkan sebagai manifesto tertinggi dari hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Pengobatan tradisional Suku Dayak dan Suku Bajo mengajarkan kita satu hal yakni manusia hanya bisa sehat jika alamnya sehat.

              Bagi Suku Dayak, hutan adalah apotek raksasa sekaligus supermarket kehidupan. Ketika seorang tabib Dayak mengambil kulit kayu, akar tanaman, atau daun tertentu di tengah hutan, ada ritual dan etika universal yang harus dipatuhi. Mereka tidak akan mengeksploitasi habis-habisan; mereka hanya mengambil seperlunya demi menjaga kelangsungan hidup pohon tersebut. Secara tidak langsung, kebutuhan akan obat-obatan tradisional ini memicu kesadaran kolektif untuk menjaga hutan tetap perawan. Jika hutan gundul, maka punahlah obat mereka, dan runtuhlah kesehatan komunitas mereka.

Begitu pula dengan Suku Bajo. Pemanfaatan vegetasi pesisir dan mangrove sebagai bahan pengobatan tradisional menjadi alasan kuat mengapa mereka mati-matian menjaga ekosistem pesisir. Mereka tahu bahwa ekosistem mangrove yang rusak bukan hanya berarti hilangnya tempat memijah ikan, tetapi juga hilangnya penawar penyakit bagi anak-cucu mereka.

Kesehatan tradisional adalah cara mereka merawat alam sekaligus memanfaatkan hasilnya secara berkelanjutan. Ini adalah bentuk local wisdom yang jauh mendahului konsep sustainability modern yang hari ini sering kita dengungkan di ruang-ruang seminar ber-AC.

Bahaya Laten Punahnya Pengetahuan Lisan

Mengapa minimnya dokumentasi tertulis ini menjadi ancaman yang sangat fatal? Tradisi lisan memiliki satu kelemahan biologis yang mutlak: ia mati bersama pemiliknya.

Ketika seorang tetua adat Dayak ataupun Bajo yang menyimpan ratusan resep obat herbal meninggal dunia sebelum sempat mentransfer seluruh pengetahuannya, maka pada hari itu juga, satu perpustakaan besar tentang ilmu alam telah terbakar habis.

Generasi muda Dayak dan Bajo hari ini dihadapkan pada gempuran modernisasi yang luar biasa. Ketika mereka mulai bermigrasi ke kota, mengenyam pendidikan formal yang seragam, dan terpapar gaya hidup digital, keterikatan mereka pada alam dan tradisi lisan mulai mengendur. Tanpa adanya dokumentasi tertulis yang sistematis—baik dalam bentuk buku, digitalisasi data, maupun pemetaan botani—pengetahuan lokal yang bernilai sangat mahal ini akan menguap begitu saja dalam satu atau dua generasi ke depan.

Lebih jauh lagi, minimnya dokumentasi tertulis ini membuat kekayaan pengetahuan lokal kita rentan terhadap “pembajakan hayati” (biopiracy) oleh pihak asing atau korporasi besar. Tanpa adanya catatan tertulis yang sah secara hukum bahwa Suku Dayak atau Suku Bajo adalah pemilik sah dari pengetahuan formula obat tertentu, sangat mudah bagi pihak luar untuk mematenkan isolasi senyawa aktif dari tanaman obat mereka demi keuntungan komersial sepihak, sementara masyarakat adatnya tetap berada dalam kemiskinan.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Kita tidak bisa lagi tinggal diam dan hanya mengagumi romantisme kehidupan Suku Dayak dan Suku Bajo dari jauh. Sebagai komunitas yang peduli pada kelestarian lingkungan, kita harus menyadari bahwa menjaga bumi bukan hanya soal menanam pohon atau membersihkan pantai dari sampah plastik, tetapi juga menyelamatkan manusia dan pengetahuan yang terikat di dalamnya.

Langkah konkret yang harus segera diambil untuk memutus rantai amnesia ini adalah dengan menginisiasi gerakan pendokumentasian partisipatif melalui kolaborasi lintas sektor yang mendesak. Pertama, para peneliti dan akademisi harus mengubah paradigma mereka, turun ke lapangan bukan lagi untuk mengeksploitasi data demi kepentingan pragmatis seperti kenaikan pangkat semata, melainkan untuk memfasilitasi penulisan bersama (co-writing) dengan masyarakat adat guna membantu mereka menuliskan, menggambar, serta mengatalogkan tanaman obat mereka sendiri.

Langkah pertama tadi harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan generasi muda adat, yang perlu didorong dan difasilitasi dengan literasi digital agar mereka tumbuh menjadi motor penggerak yang bangga mencatat, memfilmkan, dan mendokumentasikan praktik pengobatan orang tua mereka melalui media modern yang ramah zaman. Serta langkah berikutnya, seluruh upaya akar rumput ini wajib dipayungi oleh peran aktif pemerintah melalui pemberian jaminan perlindungan hak kekayaan intelektual komunal berbasis dokumentasi yang valid, sehingga kekayaan pengetahuan lokal tersebut tetap terjaga seutuhnya sebagai milik kolektif suku yang bersangkutan dan terlindungi dari ancaman eksploitasi sepihak.

Sebelum Sejarah Menghapus Mereka

Kembali ke analogi Avatar di awal tulisan, hilangnya peradaban terjadi ketika tidak ada lagi yang mengingat bagaimana cara berdialog dengan elemen alam. Jika kita terus membiarkan dokumentasi pengobatan tradisional Suku Dayak dan Suku Bajo tercecer dan terlupakan, kita sedang mempersiapkan karpet merah bagi kepunahan sejarah mereka. Suku Dayak dan Suku Bajo telah membuktikan selama berabad-abad bahwa mereka adalah garda terdepan dalam menjaga paru-paru dan jantung biru Nusantara. Mereka merawat alam karena alam adalah penyembuh mereka.

Jangan sampai, beberapa puluh tahun dari sekarang, anak cucu kita hanya mengenal Suku Dayak dan Suku Bajo sebagai nama yang tertera di buku teks sejarah yang kusam, tanpa pernah tahu bahwa dari jemari dan pengetahuan para leluhur mereka, pernah lahir cetak biru tentang bagaimana cara manusia hidup sehat, berdampingan, dan merawat bumi ini dengan penuh hormat. Sebelum “negara api” ketidakpedulian benar-benar menghanguskan segalanya, mari kita mulai mencatat, mendokumentasikan, dan menyelamatkan ingatan kolektif para Penjaga Hutan dan Penjaga Laut kita.

Leave a Comment