Sasmita Sari SP.MP. (Dosen Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Abdurachman Saleh Situbondo)
Dayak Meratus bukan hanya sekumpulan orang yang tinggal di daerah Pegunungan Meratus, tetapi juga merupakan sebuah komunitas adat yang memiliki tradisi dan budaya sendiri. Mereka mewakili cara berpikir yang menganggap manusia sebagai bagian dari alam, bukan sebagai pihak yang bebas mengendalikan dan memanfaatkannya. Perspektif ini sangat penting untuk dipertimbangkan di tengah semakin parahnya kerusakan hutan, banjir, kekeringan, dan berbagai dampak dari perubahan iklim yang kian terasa.
Dalam pengamatan saya sebagai seorang akademisi, kekuatan utama masyarakat Dayak Meratus terletak pada kepemimpinan yang berbasis pada kearifan lokal mereka sendiri. Kepemimpinan mereka tidak didasarkan pada logika menguasai, tetapi berpegang pada tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Hutan dianggap sebagai tempat hidup yang patut dihormati, sungai sebagai sumber kehidupan yang harus dilindungi, dan tanah sebagai berkah yang tidak boleh dianiaya demi keuntungan yang sebentar saja.
Saat dunia modern sering fokus pada pertumbuhan ekonomi yang cepat dan singkat, masyarakat Dayak Meratus justru mengajarkan betapa pentingnya berpikir untuk generasi mendatang. Mereka tahu bahwa kerusakan hutan sekarang akan memberatkan anak cucu di masa depan. Oleh karena itu, pemanfaatan sumber daya alam dilakukan dengan cara yang teratur dan sesuai dengan aturan adat yang telah dipastikan dari generasi ke generasi.
Sebagai seorang dosen, saya melihat praktik ini sebagai contoh nyata dari konsep pengembangan berkelanjutan yang selama ini sering dibicarakan dalam teori. Mahasiswa biasanya mempelajari prinsip keberlanjutan melalui teori di kelas, tetapi suku Dayak Meratus menunjukkan bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penebangan dilakukan dengan memilih secara hati-hati, beberapa area diberi perlindungan, serta setiap aktivitas menggunakan hutan selalu memperhatikan kemampuan alam untuk pulih kembali. Selain itu, mekanisme pengambilan keputusan dalam masyarakat adat juga patut dibanggakan. Kepemimpinan tidak selalu berupa pemerintahan sendirian, tetapi melibatkan perundingan dan pertimbangan bersama dari semua pihak. Dalam konteks pendidikan tinggi, model seperti ini sangat menarik untuk diteliti sebagai alternatif pengelolaan sumber daya alam yang lebih partisipatif dan adil. Masyarakat Dayak Meratus memiliki sistem pengawasan sosial yang kuat. Melanggar aturan adat tidak hanya membuat masyarakat merasa dirugikan, tetapi juga dianggap sebagai tindakan yang tidak sejalan dengan alam dan leluhur. Nilai-nilai seperti ini membentuk kesadaran lingkungan yang muncul dari dalam komunitas, bukan hanya karena adanya hukuman resmi dari pemerintah.
Tekanan akibat perluasan perkebunan, pertambangan, dan perubahan penggunaan lahan terus mengancam kelangsungan hidup wilayah Meratus. Namun di sini justru terlihat pentingnya negara, perguruan tinggi, dan masyarakat secara luas untuk menganggap masyarakat adat sebagai mitra penting dalam menjaga lingkungan. Masyarakat Dayak Meratus memberikan refleksi penting bahwa kepemimpinan dalam lingkungan yang sejati muncul dari hubungan yang seimbang antara manusia dan alam. Mereka mengajarkan bahwa kemajuan bisa dicapai tanpa harus merusak hutan, sungai, dan keanekaragaman hayati. Sebaliknya, keberlanjutan hanya bisa tercapai saat pembangunan dilakukan dengan menghormati ekosistem.
Di tengah berbagai krisis lingkungan yang dihadapi Indonesia, saya melihat Dayak Meratus sebagai sumber inspirasi sekaligus pengingat bahwa kearifan lokal bukan warisan masa lalu yang usang, melainkan pengetahuan hidup yang relevan untuk membangun masa depan yang lebih lestari. Belajar dari Dayak Meratus berarti belajar menempatkan alam bukan sekadar objek eksploitasi, tetapi sebagai mitra kehidupan yang harus dijaga bersama.