Mengapa Akademisi Harus Belajar pada Perempuan Adat?

Mengapa Akademisi Harus Belajar pada Perempuan Adat? Pembelajaran Agroforestri dari Perempuan Dayak Meratus

Ir. Dimas B. Zahrosa, SP. MP. (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember)

Perempuan Dayak Meratus bukan sekadar tenaga kerja di ladang, melainkan Pemilik Pengetahuan Lokal (Indigenous Knowledge).

Teori permintaan dan teori penawaran yang kita ajarkan dalam bentuk Kurva/Grafik dan teori agroforestri sering kita gunakan dalam proses pembelajaran tentang pertanian keberlanjutan di kampus. Disisi lain, perempuan Dayak di pedalaman Pegunungan Meratus telah menerapkan teori itu selama ratusan tahun yang lalu tanpa membaca artikel/jurnal ilmiah. Disaat orang-orang berdebat tentang krisis iklim global dan ancaman krisis pangan, tangan-tangan tangguh perempuan Meratus justru sibuk merawatperempuan-perempuan tangguh Dayak Meratus merawat benih lokal, menjaga hutan, dan menjaga bumi Kalimantan tetap bisa bernafas.

Dari perspektif sains pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture), pola pengelolaan lahan adat Dayak Meratus sering menjadi korban bias stereotip. Sistem pahumaan atau berladang gilir balik sering dianggap sebagai penyebab utama deforestasi dan degradasi tanah oleh orang-orang luar yang hanya melihat dasar permukaannya saja. Padahal, dari perspektif agronomi, pahumaan adalah sistem agroforestri yang paling murni yang bergantung pada zonasi ekologi.

Masyarakat Dayak Meratus tidak pernah membabat hutan secara sembarangan. Siklus jeda yang ketat, dalam meninggalkan lahan yang telah digarap selama bertahun-tahun untuk membiarkan vegetasi alami tumbuh kembali. Hal ini dianggap sebagai restorasi biologis dalam ilmu tanah. Tanpa menggunakan pupuk kimia, akar tanaman liar menyerap kembali unsur hara dari lapisan dalam, memperbaiki struktur tanah, dan menumpuk humus alami. Sistem ini yang terjadi disana, bergerak secara teratur, memungkinkan alam untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Apa yang dikerjakan perempuan Dayak Meratus sangat berperan penting. Wanita adalah “kurator” keanekaragaman hayati yang sebenarnya, sementara laki-laki bertanggung jawab untuk membuka lahan awal. Merekalah yang memiliki pengetahuan lokal (indigenous knowledge) yang penting untuk konservasi benih. Perempuan Meratus memahami cara memilah, mengeringkan, dan menyimpan banyak varietas padi lokal (padi gunung) yang tahan terhadap cuaca lokal. Secara akademis, ini adalah praktik yang nyata dalam menjaga benih padi yang membuat mereka tangguh menghadapi kemungkinan gagal panen. Selain itu Perempuan Dayak Meratus juga menemukenali tanaman obat, umbi-umbian liar, pewarna alami, dan sayuran yang ada di hutan. Praktik pengetahuannya memastikan keluarga tetap menerima asupan gizi bahkan selama paceklik. Ini adalah kedaulatan pangan yang paling nyata di tingkat rumah tangga, yang tidak bergantung pada bantuan pangan pemerintah.

Saat ini harusnya sains pertanian modern berhenti menanggalkan keangkuhannya. Tidak ada lagi alasan bagi pembuat kebijakan dan akademisi untuk menganggap kearifan lokal Dayak Meratus sebagai sesuatu yang telah hilang dan harus digantikan oleh mekanisasi pertanian monokultur, pembukaan lahan berskala industri ataupun pertanian presisi yang kita kenal dengan Smart Farming. Pengakuan hukum yang legal terhadap hak kelola hutan adat harus didorong oleh pemerintah. Lebih dari itu, perempuan adat harus diberi panggung utama dalam pengambilan keputusan untuk kebijakan ketahanan pangan dan mitigasi perubahan iklim nasional karena peran penting mereka yaitu menjaga keanekaragaman hayati.

Sebagai penutup perspektif dari Kami sebagai seorang akademisi, Pada perempuan Dayak Meratus lah kita belajar bahwa menjaga Bumi bukan sekadar kalkulasi ekonomi atau efisiensi teknologi. Memelihara Bumi adalah tentang rasa hormat, iman, dan hubungan yang kuat antar generasi yang ditunjukkan setiap hari di celah rindangnya hutan Meratus.

Leave a Comment