Agroekologi Nusantara:

Menggali Resiliensi Pangan dari Tatanan Nilai Masyarakat Baduy

Ir. Dimas B. Zahrosa, SP. MP. (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember)

Pikukuh Baduy bukan hanya sekedar cerita rakyat dalam kearifan lokal yang indah, melainkan bentuk konstitusi moral ekologis dan falsafah tata kelola lingkungan yang sangat relevan untuk menangani masalah yang timbul dari krisis agraria.

Paradigma pertanian cenderung melihat alam sebagai “faktor produksi” atau komoditas yang harus dipaksa untuk menghasilkan output maksimal tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Pandangan kami dari seorang akademisi, Pikukuh Baduy memiliki prinsip yang sejajar dengan konsep Agroekologi Modern dan Pertanian Regeneratif. Masyarakat Baduy mengetahui bahwa ekosistem terdiri dari tanah, air, hutan, dan udara. Tatanan kehidupan akan rusak jika salah satunya rusak. Ketika modernisasi mempromosikan alih fungsi lahan untuk ambisi besar dalam pembangunan industri yang tidak terkendali, Pikukuh Baduy menyuarakan ajaran luhur yaitu Gunung Teu Meunang Dilebur, Lebak Teu Meunang Dirusak (Gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak). Pesan moral ini menekankan pentingnya mempertahankan fungsi hutan konservasi sebagai penyangga ekosistem pertanian (agricultural landscape).

Dari perspektif akademisi, saat ini dunia pertanian menghadapi banyak tantangan global yang kompleks seperti perubahan iklim, disinformasi teknologi, konsumerisme yang berlebihan, dan krisis sosial. Hal inilah yang dirasakan oleh generasi muda saat ini yang kurang berminat dalam pertanian. Dengan deforestasi dan penggunaan pupuk nitrogen sintetis, pertanian modern dianggap sebagai salah satu penyebab emisi gas rumah kaca terbesar. Sistem pertanian Baduy yang didasarkan pada kearifan lokal berfungsi sebagai penyerap karbon. Mereka menunjukkan bahwa kelestarian hutan tutupan dapat berkorelasi dengan produktivitas pangan.

Sebagai akademisi, kita tidak boleh terjebak dalam nostalgia masa lalu hingga menolak semua kemajuan teknologi modern. Sebaliknya, kita tidak boleh menganggap semua masalah pertanian dapat diselesaikan dengan teknologi tanpa mempertimbangkan etika lingkungan. Dengan hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI), precision farming, dan otomatisasi di bidang pertanian memberikan kemudahan luar biasa. Namun, jika teknologi ini menyimpang dari standar moral, alam dan manusia maka hal ini akan meruntuhkan sistem pertanian yang ada. Pikukuh Baduy mengingatkan para akademisi dan pencipta teknologi bahwa penggunaan AI dalam pertanian tidak boleh merusak hubungan sosial, nilai-nilai kemanusiaan, atau mengeksploitasi alam untuk kepentingan segelintir perusahaan. Teknologi harus mengarah pada pembangunan pertanian keberlanjutan daripada mempercepat kerusakan.

Suku Baduy telah menunjukkan ketahanan (resilience) mereka sepanjang sejarah. Pertanian yang didasarkan pada kearifan lokal Suku Baduy tetap stabil, mandiri, dan berdaulat meskipun banyak sistem pertanian modern yang runtuh karena serangan hama, kekeringan, atau krisis ekonomi. Modal sosial dan ekologis yang tak ternilai adalah kesediaan hidup yang sangat sederhana, pelaksanaan nilai yang konsisten, dan keterkaitan dengan alam. Nilai-nilai Pikukuh ini sebenarnya selaras dengan ajaran universal tentang kepemimpinan manusia di bumi, yaitu tanggung jawab moral kekhalifahan untuk menjaga, menjaga, dan tidak merusak Bumi. 

Pikukuh Baduy bukan sekadar hukum adat milik masyarakat Kanekes melainkan warisan peradaban yang memberikan moral kepada ilmu pengetahuan. Hari ini, kita sebagai seorang akademisi, peneliti, dan mahasiswa pertanian bukan lagi sekadar mengajarkan masyarakat adat tentang teknik pertanian modern, sebaliknya kita harus banyak belajar dari masyarakat adat tentang teknik pertanian yang bijaksana, jujur, dan berkelanjutan.

Mari kita bangun paradigma pertanian Indonesia yang baru: sebuah sistem pertanian yang canggih secara keilmuan, berdaulat secara ekonomi, berkeadilan secara sosial, dan berakar kuat pada kearifan lokal Nusantara. Kita hanya dapat memastikan bahwa tanah yang kita tanami saat ini masih mampu memberi kehidupan bagi generasi esok hari dengan menjaga keseimbangan tanpa keserakahan.

Sebagai penutup perspektif dari Kami sebagai seorang akademisi, Agroekologi Nusantara bukan sekadar tentang teknik menanam atau rekayasa lahan, melainkan tentang kesadaran jiwa. Dari tatanan nilai masyarakat Baduy kita belajar: resiliensi pangan sejati tidak pernah lahir dari keserakahan mengeksploitasi bumi, melainkan dari keberanian untuk hidup bersahaja dan menjaga harmoni bersama alam.

Leave a Comment