Kurikulum Semesta Dari Dayak Iban Sungai Utik: Tata Kelola Pelestarian Hutan Adat yang Ilmiah dan Teruji

Ir. Dimas B. Zahrosa, SP. MP. (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember)

Bagi masyarakat Dayak Iban Sungai Utik, hutan adalah sumber kehidupan yang suci, bukan sekumpulan pohon atau komoditas ekonomi. Pepatah yang terkenal Tanah merupakan ibu kita, hutan merupakan bapak kita, dan air merupakan darah kita. Filosofi ini mendasari cara mereka mengelola wilayah adat dan sebagian besar di antaranya masih berupa hutan primer yang terjaga dengan sangat baik.

Di dalam ruang kelas, kami sering mengajari mahasiswa terkait konsep pembangunan berkelanjutan, perubahan iklim, dan konservasi alam dari berbagai jurnal/artikel dan buku teks akademis. Namun demikian, sebagai Dosen, kami sering merasa berjarak dan teoretis. Apa yang menjadi jawaban atas krisis ekologi global saat ini tidak banyak ditemukan di universitas-universitas di seluruh dunia, tetapi di Rumah Betang yang terletak di tengah-tengah Borneo. Komunitas Dayak Iban Sungai Utik di Desa Batu Lintang bias menjadi “laboratorium hidup dan guru besar” yang sesungguhnya dalam hal tata kelola lingkungan bagi para pengajar. Mereka bukan lagi sekadar objek penelitian atau catatan kaki dalam penelitian antropolgi.

Sebagai pengajar, melihat apa yang diimplementasikan oleh masyarakat Dayak Iban Sungai Utik memberikan tiga refleksi akademis yang mendalam:

  1. Klasifikasi Pembelajaran Kontekstual yang Ideal

      Pembelajaran dan pengajaran berbasis konteks nyata adalah pendekatan yang dikenal di dunia pendidikan. Sungai Utik merupakan gambaran ideal dari gagasan ini. Dengan membagi wilayahnya secara ketat menjadi Kampong Taneh (Hutan Lindung), Kampong Galau (Hutan Cadangan), dan Kampong Endur Kerja (Hutan Produksi), mereka mengajarkan tata ruang wilayah yang jauh lebih efektif dari pada teori sosiologi perkotaan. Mereka melakukan hal-hal nyata untuk mempraktikkan sains ekologi, seperti berkolaborasi untuk menyediakan air bersih.

      2. Menghidupkan Kembali “Pendidikan Karakter”

      Karena adanya perilaku konsumtif yang kuat, sebagai pengajar, kami sering mengalami kesulitan menginternalisasi prinsip moral seperti “tanggung jawab lingkungan” kepada mahasiswa kami. Filosofi Dayak Iban, “Lebih baik menjaga mata air daripada meneteskan air mata” adalah sumber pendidikan karakter yang sangat baik. Literasi adalah kemampuan untuk membaca tanda-tanda alam dan menjaga keseimbangan ekosistem untuk generasi yang akan datang, bukan sekadar kemampuan membaca dokumen hukum adat.

      3. Pengetahuan Lokal dan Pengetahuan Modern

      Jika dilihat dari sudut pandang kami sebagai pengajar melihat Sungai Utik sebagai tempat untuk menghilangkan keangkuhan akademik. Pengetahuan lokal, sering dipandang sebelah mata oleh ilmu pengetahuan modern. Namun, Desa Batu Lintang berhasil naik dari status “Desa Sangat Tertinggal” menjadi “Desa Mandiri” tanpa menghancurkan sehelai daun di hutan lindung mereka. Penghargaan global seperti Penghargaan Equator Prize (2019): Penghargaan bergengsi dari United Nations Development Programme (UNDP) yang diberikan di New York membuktikan bahwa kurikulum konvensional negara itu jauh lebih fleksibel dalam menghadapi krisis iklim global karena keberhasilan mereka mengurangi emisi karbon melalui perlindungan hutan berbasis masyarakat adat.

      Komunitas Dayak Iban Sungai Utik adalah antitesis dari kegagalan pembangunan modern dari sudut pandang ilmiah. Mereka menunjukkan bahwa peradaban yang tangguh, mandiri, dan terkenal dapat dibangun dengan menggabungkan pengetahuan local, pengorganisasian hukum yang taktis, dan pemanfaatan ekonomi yang berkelanjutan. Sebagai pengajar, saya melihat komunitas ini menerapkan filosofi ecopedagogy (pedagogi lingkungan). Dengan menolak industri ekstraktif dan berkolaborasi untuk membangun akses air bersih dan bergantung pada ekowisata berbasis jasa lingkungan, mereka sedang menghancurkan arogansi ilmu pengetahuan modern. Mereka menunjukkan bahwa, dalam menangani krisis iklim global, pengetahuan local memiliki tingkat ilmiah yang sama, bahkan lebih adaptif.

      Sebagai penutup perspektif dari Kami sebagai Pengajar, Sungai Utik adalah pengingat bahwa tugas pendidikan di Perguruan Tinggi bukan sekadar mencetak mahasiswa yang mampu menaklukkan dan mengeksploitasi alam demi angka-angka pertumbuhan ekonomi. Tugas pendidikan adalah mencetak mahasiswa yang sadar akan ruang hidupnya. Dari para tetua adat di Sungai Utik, kita belajar bahwa kurikulum terbaik adalah kurikulum semesta yang selaras dengan napas bumi, dan ujian kelulusan sejatinya adalah seberapa lama kita mampu menjaga “mata air” kehidupan untuk anak cucu kita.

      Leave a Comment