Djoko Soejono, SP, MP. (Dosen Program Studi Agribisnis Universitas Jember)
Sejarah mencatat bahwa tahun 1985, negara kita berhasil mencapai swasembada beras. Maknanya, kondisi ketika Indonesia mampu memenuhi seluruh atau sebagian besar kebutuhan beras masyarakat dari hasil produksi dalam negeri, sehingga tidak bergantung atau hanya sedikit bergantung pada impor beras dari negara lain, dengan kata lain produksi beras nasional cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari berbagai kebijakan pemerintah yang didukung oleh penerapan Revolusi Hijau, seperti penggunaan varietas padi unggul, pembangunan jaringan irigasi, penyediaan pupuk dan pestisida, penyuluhan pertanian, serta kemudahan akses kredit bagi petani.
Harus diakui bahwa revolusi hijau telah memberikan dampak yang signifikan bagi sektor pertanian, yaitu: (1) meningkatnya produktivitas tanaman pangan, terutama padi, jagung, dan gandum; (2) hasil panen yang lebih banyak memberikan peluang bagi petani untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi; (3) Ketersediaan pangan yang lebih melimpah mengurangi risiko kelangkaan dan membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus bertambah; dan (4) produksi pertanian yang meningkat memberikan kontribusi terhadap pendapatan nasional dan memperkuat sektor pertanian sebagai salah satu penopang perekonomian.
Namun demikian, keberhasilan Revolusi Hijau tersebut akan membawa tantangan bahkan dapat mengancam masa depan pertanian jika tidak dikelola dengan baik. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan menyebabkan penurunan kesuburan tanah, pencemaran air, serta berkurangnya keanekaragaman hayati. Selain itu, praktik penanaman satu jenis tanaman (monokultur) secara terus-menerus membuat lahan menjadi lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit.
Perkembangan saat ini, banyak negara mulai mengalihkan fokus pembangunan pertaniannya ke arah pertanian berkelanjutan yang tujuannya adalah menjaga keseimbangan antara peningkatan produksi pangan, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan petani. Arah baru pembangunan pertanian di banyak negara sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Pertanyaan yang muncul, bagaimana dengan Indonesia sebagai negara agraris, yang sebagian besar petani masih bergantung pada penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis untuk meningkatkan produktivitas lahan, akan tetapi pemakaian yang terus-menerus dan tidak terkendali dapat mempercepat degradasi lahan.
Oleh karena itu, ada upaya untuk memperkuat konsep pertanian berkelanjutan yang salah satunya belajar dari masyarakat baduy dalam menjaga keseimbangan alam. Masyarakat Baduy merupakan salah satu contoh komunitas adat di Indonesia yang berhasil menjaga keseimbangan alam melalui kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Sistem pertanian yang diterapkan masyarakat Baduy mengutamakan keberlanjutan, yaitu: (1) budidaya jenis tanaman sesuai musim; (2) air mengalir secara alami tidak merusak alur tanpa irigasi; (3) menjaga kesuburan tanah secara alami tanpa pupuk kimia, pestisida; (4) membatasi pemanfaatan lahan agar tidak merusak keseimbangan ekosistem; dan (5) keberadaan hutan adat dipandang sebagai penyangga kehidupan karena berfungsi menjaga sumber mata air, mencegah erosi, serta menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa.
Kearifan lokal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan hasil pertanian tidak selalu harus dicapai melalui penggunaan teknologi dan bahan kimia secara intensif. Sebaliknya, menjaga keseimbangan antara manusia dan alam justru menjadi kunci keberlanjutan produksi pangan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, praktik masyarakat Baduy yang dilakukan secara konsisten dan berlandaskan kuat pada nilai-nilai kearifan lokal dapat menjadi inspirasi bagi petani Indonesia dalam pengembangan pertanian berkelanjutan. Masyarakat Baduy menunjukkan bahwa kegiatan pertanian dapat berjalan selaras dengan alam melalui penerapan aturan adat, pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, serta penghindaran penggunaan bahan kimia yang berlebihan. Sistem pertanian tradisional mereka menekankan pentingnya menjaga kesuburan tanah, melindungi hutan, mempertahankan keanekaragaman hayati, dan menghormati keseimbangan ekosistem.