Pengetahuan Menjadi Cara Hidup: Belajar dari Masyarakat Adat Dayak Meratus, Kalimantan Selatan

Adiyono M., ST., M.M. (Legal & Human Capital PT. SHA SOLO Kalimantan Selatan)

“Pengetahuan yang paling bertahan bukanlah yang paling banyak diajarkan, melainkan yang terus dihidupi.”

Tidak semua pengetahuan lahir dari ruang kelas, tersimpan dalam buku, atau diwariskan melalui tulisan. Sebagian pengetahuan justru bertahan karena terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari hingga menjadi bagian dari cara manusia memahami dirinya, sesamanya, dan alam tempat ia hidup.

Di tengah kecenderungan zaman yang menempatkan pengetahuan sebagai informasi yang mudah diproduksi dan disebarluaskan, masih terdapat komunitas yang menunjukkan bahwa nilai sebuah pengetahuan tidak pertama-tama diukur dari seberapa banyak ia diketahui, melainkan dari seberapa lama ia mampu membimbing kehidupan. Masyarakat Adat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan menghadirkan pelajaran tersebut melalui pengalaman hidup yang diwariskan lintas generasi, di mana pengetahuan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menjelma menjadi cara hidup.

Pengetahuan Tidak Selalu Lahir dari Pendidikan Formal

Tidak semua pengetahuan memilih untuk disimpan dalam ingatan manusia; sebagian memilih bertahan melalui cara manusia menjalani kehidupannya. Inilah sebabnya tidak seluruh pengetahuan dapat dipahami hanya melalui pendidikan formal ataupun dokumentasi ilmiah. Sebagian tumbuh dari pengalaman yang terus diuji, diwariskan melalui praktik, dan memperoleh maknanya karena mampu menjawab tantangan kehidupan secara nyata.

Gagasan tersebut selaras dengan konsep tacit knowledge yang diperkenalkan oleh Michael Polanyi, yaitu pengetahuan yang tidak sepenuhnya dapat diungkapkan melalui bahasa, tetapi dipahami melalui pengalaman dan tindakan. Pengetahuan semacam ini hidup dalam kebiasaan, pertimbangan, serta kemampuan membaca situasi yang berkembang secara kolektif dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam perspektif inilah pengetahuan tidak lagi dipahami sebagai sekumpulan informasi yang dimiliki seseorang, melainkan sebagai proses yang membentuk cara manusia berpikir, mengambil keputusan, dan memaknai kehidupan.

Kehidupan Menjadi Ruang Uji Pengetahuan

Pengetahuan tidak memperoleh nilainya hanya karena diwariskan, melainkan karena terus membuktikan dirinya dalam kehidupan. Sebuah cara mengelola hutan, memanfaatkan sumber air, menentukan waktu bercocok tanam, maupun menjaga hubungan antarsesama akan tetap dipertahankan selama menghadirkan keseimbangan yang dapat dirasakan oleh komunitas. Dalam konteks inilah, pengetahuan tidak memerlukan pembenaran setiap saat, karena kehidupan sendiri menjadi ruang yang mengujinya.

Pengalaman Masyarakat Adat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan memperlihatkan bahwa pengetahuan tidak berdiri sebagai kumpulan aturan yang kaku. Ia berkembang melalui pengamatan yang berulang, pengalaman kolektif, dan kemampuan masyarakat membaca keterkaitan antara manusia, alam, serta kehidupan sosial. Pengetahuan tidak berhenti pada apa yang diketahui, tetapi menjadi dasar dalam menentukan bagaimana seseorang bersikap dan mengambil keputusan.

Dalam kajian adaptive management, sebuah sistem pengetahuan dinilai bertahan bukan karena tidak pernah berubah, melainkan karena mampu belajar dari pengalaman tanpa kehilangan prinsip dasarnya. Perspektif ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjaga sumber daya, tetapi juga oleh kemampuan suatu komunitas menjaga proses belajar yang terus berlangsung dari generasi ke generasi.

Pengetahuan Menjadi Dasar Pengambilan Keputusan

Nilai sebuah pengetahuan tidak berhenti pada kemampuannya menjelaskan kehidupan, tetapi pada kemampuannya membimbing pilihan ketika kehidupan menghadirkan berbagai kemungkinan. Dalam masyarakat modern, keputusan sering kali bertumpu pada data, regulasi, atau pertimbangan ekonomi. Sebaliknya, pengalaman Masyarakat Adat Dayak Meratus menunjukkan bahwa keputusan juga lahir dari kesadaran akan keterhubungan antara manusia, alam, dan kehidupan bersama.

Cara pandang tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan bukan sekadar menjawab pertanyaan apa yang boleh dilakukan, tetapi juga apa yang patut dilakukan. Di sinilah pengetahuan berkembang menjadi kebijaksanaan (practical wisdom), yaitu kemampuan menimbang setiap keputusan dengan mempertimbangkan keberlanjutan kehidupan, bukan hanya manfaat sesaat. Dalam tradisi filsafat, konsep ini sejalan dengan phronesis yang diperkenalkan oleh Aristotle, yakni kebijaksanaan praktis yang menghubungkan pengetahuan dengan tindakan yang tepat dalam situasi nyata.

Pelajaran yang dapat dipetik bukan semata-mata bagaimana masyarakat adat menjaga ruang hidupnya, melainkan bagaimana setiap keputusan dibangun di atas kesadaran bahwa manusia tidak pernah berdiri sendiri. Sebuah keputusan dinilai baik bukan hanya karena menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi karena tetap memberi ruang bagi kehidupan untuk terus berlangsung pada masa yang akan datang.

Kebijaksanaan Dimulai dari Kerendahan Hati terhadap Pengetahuan

Barangkali tantangan terbesar pada masa kini bukanlah kekurangan pengetahuan, melainkan keyakinan bahwa satu cara memahami kehidupan telah cukup untuk menjelaskan seluruh kenyataan. Pandangan semacam ini sering menjadikan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tumbuh dalam pengalaman masyarakat seolah berada pada dua kutub yang saling meniadakan. Padahal, keduanya lahir dari cara membaca realitas yang berbeda, sekaligus dapat saling melengkapi.

Refleksi dari Masyarakat Adat Dayak Meratus memperlihatkan bahwa pengetahuan tidak selalu mencari jawaban yang paling cepat, tetapi berupaya menemukan keputusan yang tetap menjaga keberlangsungan kehidupan. Di sinilah letak pelajaran yang paling berharga: kemajuan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga oleh kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak semua kebijaksanaan lahir dari ruang-ruang akademik.

Pada akhirnya, masa depan tidak memerlukan pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dan pengetahuan yang hidup dalam komunitas. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk menempatkan setiap bentuk pengetahuan pada konteksnya, sehingga keduanya dapat saling memperkaya dalam membangun kehidupan yang lebih adil, berkelanjutan, dan bermakna.

Warisan yang Tidak Selalu Berupa Peninggalan

Setiap peradaban meninggalkan jejak. Sebagian mewariskan bangunan, teknologi, atau catatan sejarah. Sebagian lainnya mewariskan cara berpikir yang terus hidup melalui tindakan sehari-hari. Warisan seperti inilah yang sering luput dari perhatian karena tidak selalu tampak dalam bentuk fisik, tetapi tetap membentuk arah kehidupan sebuah komunitas.

Pelajaran dari Masyarakat Adat Dayak Meratus mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjaga apa yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan mewariskan cara memandang kehidupan kepada generasi berikutnya. Pengetahuan menjadi bernilai bukan semata karena berhasil dipertahankan, melainkan karena tetap relevan dalam membimbing manusia menghadapi perubahan tanpa kehilangan akar nilai yang menopangnya.

Pada titik inilah, pengetahuan berubah menjadi warisan peradaban. Ia tidak berhenti sebagai ingatan kolektif, tetapi terus hadir dalam pilihan, sikap, dan tanggung jawab yang dijalankan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selama proses itu tetap berlangsung, sebuah komunitas tidak hanya sedang menjaga masa lalunya, tetapi juga sedang membangun masa depannya.

Mungkin, ukuran sebuah peradaban tidak pertama-tama ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dikumpulkannya, melainkan oleh seberapa jauh pengetahuan itu mampu membentuk cara hidup manusianya. Ketika pengetahuan berhenti menjadi sekadar informasi dan menjelma menjadi kebiasaan, tanggung jawab, serta kebijaksanaan dalam memandang kehidupan, pada saat itulah sebuah peradaban sedang mewariskan sesuatu yang nilainya melampaui zamannya.

Leave a Comment