Ekoteologi dari Pesisir: Mengapa Kerusakan Morowali Adalah Krisis Spiritual Kita

Oleh: Syahril Rahman, S.Kom.I., M.Ag., C.RP (Direktur KALAM kajian Literasi dan Agama Modern)

Pagi di pesisir Sulawesi Tengah kini tak lagi selalu membawa aroma payau yang segar, melainkan debu kemerahan yang menempel di jendela-jendela rumah warga. Morowali, yang dahulu adalah simfoni hijau hutan hujan dan biru kristal lautan, kini perlahan berubah menjadi altar persembahan bagi ambisi ekstraksi. Di bawah gemerlap janji kesejahteraan, ada jerit alam yang terbungkam. Krisis ekologis di Bumi Tadulako ini bukan sekadar urusan teknis degradasi lahan atau polusi air, melainkan sebuah tragedi teologis: hilangnya rasa “takzim” manusia terhadap tanda-tanda keberadaan Tuhan yang terpahat di alam semesta.

Secara filosofis, krisis di Morowali mencerminkan keruntuhan cara pandang manusia yang melihat alam hanya sebagai objek konsumsi. Kita terjebak dalam egosentrisme akut yang menganggap bumi adalah warisan yang boleh dihabiskan, bukan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Dalam kacamata ekoteologi Al-Qur’an, perusakan alam adalah bentuk pengkhianatan terhadap kontrak primordial antara Khalifah dan Sang Pencipta. Allah SWT telah memperingatkan dengan sangat benderang dalam Surah Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan di laut adalah buah tangan manusia sendiri, agar mereka merasakan sebagian dari dampak perbuatan mereka dan kembali ke jalan yang benar. Ayat ini bukan sekadar ramalan cuaca purba, melainkan kritik tajam bagi kebijakan pembangunan yang memisahkan antara pertumbuhan ekonomi dan keselamatan ekologi.

Para ulama terdahulu, seperti Imam Al-Ghazali, sering menekankan bahwa alam adalah cermin bagi sifat-sifat Tuhan. Jika cermin itu kita retakkan, maka hilanglah cara kita untuk mengenal Sang Khalik secara utuh. Merusak hutan dan mencemari laut di Sulawesi Tengah demi nikel dan keuntungan sesaat adalah tindakan “menghapus” ayat-ayat Tuhan yang tak tertulis (ayat kauniyah). Pandangan kontemporer dari tokoh seperti Seyyed Hossein Nasr pun senada, ia mengingatkan bahwa krisis lingkungan bermuara dari krisis spiritual. Ketika manusia kehilangan sakralitas dalam memandang pohon, gunung, dan air, maka penghancuran massal atas nama industri dianggap sebagai keniscayaan yang sah-sah saja.

Namun, Islam tidak mengajarkan kepasrahan yang fatalistik. Rekonstruksi etika ekoteologi menuntut kita untuk mengembalikan posisi alam sebagai “subjek” yang memiliki hak untuk bertasbih dengan caranya sendiri. Pembangunan di Morowali seharusnya tidak boleh memunggungi prinsip mizan atau keseimbangan yang telah Tuhan tetapkan. Memaksakan lubang-lubang tambang tanpa pemulihan yang nyata adalah bentuk kesombongan kosmik. Kita butuh keberanian teologis untuk mengatakan bahwa pelestarian lingkungan bukanlah opsi tambahan atau sekadar “pencucian dosa” melalui program CSR, melainkan bagian integral dari iman itu sendiri.

Pada akhirnya, apa yang terjadi di Sulawesi Tengah adalah ujian bagi moralitas kita sebagai bangsa yang mengaku berketuhanan. Jika doa-doa kita melangit namun tangan kita terus merobek perut bumi tanpa batas, bukankah itu sebuah kemunafikan ekologis? Menjaga tanah Morowali, melindungi hutan di Lore Lindu, dan merawat teluk-teluk kita adalah bentuk ibadah yang paling nyata di masa kini. Sebab, Tuhan tidak hanya hadir di atas sajadah, tetapi juga dalam setiap helai daun yang kita selamatkan dan setiap tetes air bersih yang kita wariskan untuk anak cucu di masa depan.

Leave a Comment