Oleh: Ahmad Rifangi, S.Pd (Pegiat Lingkungan Hutan Mangrove)
Teluk Tomini, dengan segala kemegahan bawah air dan posisinya sebagai salah satu teluk terbesar di garis khatulistiwa, sedang menghadapi ujian zaman yang tidak ringan. Di tengah ancaman krisis iklim global, kenaikan permukaan air laut, dan degradasi lingkungan akibat aktivitas manusia, wilayah pesisir Parigi Moutong kini berdiri di persimpangan jalan. Di sinilah keberadaan hutan mangrove bukan lagi sekadar pelengkap lanskap pesisir, melainkan telah menjelma menjadi benteng pertahanan ekologis terakhir yang menentukan hidup-mati masa depan ekosistem Teluk Tomini.
Upaya restorasi mangrove yang belakangan ini gencar disuarakan di Parigi Moutong harus dipandang sebagai sebuah urgensi, bukan lagi sekadar agenda seremonial penanaman pohon. Hutan mangrove adalah jangkar alami bumi. Akar-akarnya yang kokoh mencengkeram sedimen, menahan laju abrasi yang kian hari kian mengikis daratan, sekaligus menjadi penyaring alami yang mencegah polutan darat langsung mencemari perairan teluk. Ketika hutan mangrove di Parigi Moutong rusak, kita sedang membuka pintu gerbang bagi kehancuran terumbu karang dan hilangnya tempat berpijak bagi jutaan biota laut yang selama ini menggantungkan hidupnya di sana.
Namun, mengembalikan kejayaan hijau di pesisir Parigi Moutong bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Tantangan terbesar restorasi ini sering kali bukan pada penyediaan bibit, melainkan pada bagaimana mengubah cara pandang masyarakat dan pemangku kebijakan. Selama bertahun-tahun, kawasan pesisir kerap dikorbankan demi syahwat pembangunan jangka pendek, mulai dari alih fungsi lahan menjadi tambak intensif hingga perluasan pemukiman yang tidak terkendali. Kita harus menyadari bahwa keuntungan ekonomi dari merusak alam selalu bersifat semu dan berumur pendek, yang kemudian hari harus dibayar mahal dengan bencana ekologis.
Oleh karena itu, restorasi mangrove yang berkelanjutan membutuhkan komitmen kolektif yang mendalam. Keterlibatan masyarakat lokal, terutama para nelayan dan generasi muda di Parigi Moutong, menjadi kunci utama karena merekalah yang paling pertama merasakan dampak langsung dari kesehatan Teluk Tomini. Kebijakan pemerintah daerah juga harus berani berdiri tegas di sisi ekologi, memastikan bahwa ruang publik pesisir dilindungi oleh hukum yang tidak bisa dinegosiasikan oleh kepentingan korporasi.
Menyelamatkan mangrove di Parigi Moutong pada akhirnya adalah tentang menyelamatkan martabat dan masa depan Teluk Tomini. Setiap jengkal bibit mangrove yang berhasil tumbuh dan mengakar adalah sebuah investasi bagi kelangsungan hidup anak cucu kita. Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan alam sebagai objek eksploitasi dan mulai merawatnya sebagai ruang hidup bersama, karena jika benteng hijau di Parigi Moutong ini runtuh, maka runtuh pula kejayaan ekologis Teluk Tomini yang kita banggakan.