Jejak Purba ke Nalar Modern: Membaca Bumi, Manusia, dan Peradaban Melalui Ilmu Filsafat dan Buku

Oleh : Desi Arisanti, S.H., M.H.

Pertemuan pertama Asosiasi Peneliti Studi Kalimantan menjadi titik balik cara saya membaca Kalimantan. Tema “Dari Jejak Purba ke Nalar Modern” bukan sekadar judul seminar, melainkan undangan untuk kembali berdialog dengan bumi. Diskusi yang terbangun menyadarkan bahwa data dan angka tidak cukup memahami Kalimantan. Diperlukan nalar filsafat dan kearifan literasi untuk membaca tanda-tanda zaman yang terukir di hutan, sungai, dan peradaban masyarakat adatnya. Inilah hikmah terbesar yang saya dapat: merawat bumi berarti merawat cara berpikir.

       Pembahasan tentang relasi bumi, manusia, dan peradaban sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari jejak panjang kesadaran manusia sejak era purba. Dari lukisan gua di Kalimantan hingga prasasti di Mesopotamia, manusia selalu berusaha “membaca” alam sebagai teks kosmik yang memberi tanda. Namun memasuki nalar modern yang ditopang rasionalitas instrumental, pembacaan itu mengalami distorsi. Bumi tak lagi dipahami sebagai Ibu yang menghidupi, melainkan objek yang dieksploitasi demi akumulasi kapital dan pertumbuhan tanpa batas. Krisis iklim, deforestasi, dan alienasi manusia dari alam adalah konsekuensi logis dari putusnya dialog ontologis antara manusia dan bumi.

      Padahal ilmu filsafat sejak awal telah meletakkan fondasi kritis untuk memahami posisi manusia di tengah semesta. Filsafat lingkungan hidup dari Arne Naess hingga pemikiran ekosofi mengingatkan bahwa krisis ekologis adalah krisis cara berpikir. Nalar modern yang antroposentris menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa, sehingga relasi dengan bumi menjadi transaksional. Di titik inilah buku sebagai artefak peradaban memiliki peran sentral. Buku bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan ruang deliberasi lintas zaman. Melalui buku, gagasan Plato tentang keadilan, Ibnu Khaldun tentang siklus peradaban, hingga Rachel Carson tentang _Silent Spring_ terus hidup dan menantang nalar dominan hari ini. Literasi filosofis lewat buku memungkinkan manusia modern menengok kembali jejak purba: bahwa bertahan hidup bukan soal menaklukkan, tapi merawat.

       Persoalannya, di era demokrasi elektoral dan pasar bebas informasi, buku dan filsafat justru terpinggirkan. Algoritma media sosial menggantikan kontemplasi, kecepatan menggusur kedalaman. Masyarakat lebih akrab dengan _event registration_ seminar sehari ketimbang tradisi membaca buku tebal yang menuntut jeda dan perenungan. Akibatnya, kebijakan publik tentang bumi dan peradaban sering lahir dari nalar teknokratis yang miskin refleksi etik. Kasus izin tambang di kawasan karst Kalimantan, alih fungsi hutan adat, hingga normalisasi bencana sebagai “risiko pembangunan” adalah bukti absennya pembacaan filosofis atas bumi. Kita kehilangan kemampuan membaca tanda-tanda zaman karena tercerabut dari tradisi literasi yang memuliakan kearifan.

        Rekomendasi yang dapat ditawarkan untuk mengembalikan nalar pembacaan atas bumi, manusia, dan peradaban, antara lain: *Pertama*, reorientasi kurikulum pendidikan tinggi dengan mengintegrasikan filsafat lingkungan dan literasi buku klasik sebagai mata kuliah dasar, bukan sekadar pelengkap. *Kedua*, penguatan _public sphere_ Habermasian berbasis komunitas baca dan diskursus buku, agar kebijakan ekologis lahir dari deliberasi rasional warga, bukan elitis. *Ketiga*, kolaborasi kampus, penerbit, dan pemerintah daerah di Kalimantan dalam mendesain _policy brief_ berbasis kajian filosofis untuk setiap proyek ekstraktif, sehingga ada jeda etik sebelum eksploitasi. *Keempat*, merevitalisasi peran perpustakaan dan toko buku independen sebagai ruang publik otonom yang bebas intervensi pasar, tempat manusia modern bisa kembali “berdialog” dengan jejak purba. *Terakhir*, sinkronisasi regulasi literasi dan lingkungan agar buku tidak hanya jadi komoditas event, tapi infrastruktur peradaban. Sebab tanpa kemampuan membaca bumi secara filosofis, kita hanya akan mewariskan anak cucu nalar yang bangkrut: cerdas secara teknis, tapi buta secara ekologis.

➡️Hikmah dari pertemuan pertama ini : Kalimantan tidak butuh lebih banyak seminar, tapi lebih banyak pembaca yang mau merenung. Dan APSK telah memulai langkah itu.

Leave a Comment